Image

Tumbuhkan Kebanggan Berkoperasi

KSU Koperasi TerbesarPlakat penghargaan sebagai koperasi serba usaha terbesar di Tanah Air itu diserahkan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan kepada Iwan Setiawan, Ketua Koperasi Serba Usaha Sejahtera Bersama (KSU-SB) pada 10 September 2012 lalu. Selain menyabet penghargaan bergengsi sebagai KSU nomor 1 terbesar dalam Launcing Buku 100 Koperasi Besar Indonesia itu, KSU-SB juga berhasil menempati posisi 10 besar dari 100 Koperasi Besar Indonesia.

Dua sukses beruntun tersebut merupakan hasil kerja keras pengurus dan karyawan KSU-SB yang berkantor pusat di Jalan Pajajaran No 1 Bogor ini. Namun, memang tidak dipungkiri ‘tangan dingin’ Iwan Setiawan memegang andil besar dalam menjalankan koperasi yang semula tidak pernah diperhitungkan bakal menjadi besar ini. Apalagi usaha koperasi awalnya bukanlah ladang garapan lelaki kelahiran Sukabumi 20 Desember 1969 ini. Usai mengenyam pendidikan Studi Informatika di Institut Pertanian Bogor pada 1989, Iwan malah lebih asyik di dunia asuransi dengan jam terbang cukup panjang, yaitu lebih 10 tahun dengan mengikuti berbagai pendidikan informal maupun seminar yang berkaitan dengan masalah asuransi. Dengan posisi yang cukup mapan di industri asuransi, ayah tiga anak ini tiba-tiba mengalihkan minatnya ke dunia  perkoperasian. Bersama dengan sejumlah rekan-rekannya, Iwan mendirikan Koperasi Serba Usaha Sejahtera Bersama pada Januari 2004 yang dalam perjalanannya yang cukup melelahkan akhirnya berhasil menuai sukses. Kepada Irsyad Muchtar dari Majalah PELUANG & Infopasar, Iwan membeberkan tekad besarnya untuk menjadikan koperasi sebagai badan usaha yang mampu menyejahterakan anggotanya, dan bukan hanya pengurusnya saja. Berikut petikannya.

Dunia asuransi agaknya boleh dibilang sebagai zona aman bagi Anda lantaran cukup lama berkecimpung di lembaga keuangan non bank tersebut. Tetapi, Anda beralih ke sek-tor perkoperasian yang secara materiel acapkali dianggap tidak menguntungkan. Faktor apa yang mendorong Anda? Saya terpikir untuk membangun koperasi ini tahun 2004 karena terilhami ketika krisis ekonomi melanda negeri ini sejak tahun 1997 yang tidak kunjung usai. Terus terang dunia asuransi jiwa yang saya tekuni waktu itu sangat menjanjikan dengan kemampuan menghimpun dana dalam satu tahun hingga puluhan triliun rupiah. Tetapi yang saya pikirkan waktu itu, bagaimana dana sebesar itu bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Memang tidak mudah mengelaborasi kerangka ideal tersebut. Akhirnya dengan sejumlah teman saya putuskan untuk mendirikan lembaga koperasi ini pada tahun 2004. Mengapa koperasi? Karena di tengah badai krisis yang hebat itu badan usaha rakyat ini justru mampu bertahan dan mampu tumbuh dengan platform kebersamaan di antara para pengurus dan anggotanya. Yang kita pilih waktu itu adalah menjalankan Unit Usaha Simpan Pinjam (USP) sebagai bagian dari salah satu Usaha KSU-SB, dengan menghimpun dana dari para pendiri dan juga dari anggota. Dana yang dihimpun dari anggota kita kelola dengan baik dan kita serahkan 100% kepada anggota, sehingga dana tersebut benar-benar berputar di masyarakat, bukannya di lembaga keuangan atau untuk kepentingan investasi para konglomerat. Melalui koperasi kita ingin membalik keadaan dimana konglomerat yang simpan uang dan masyarakat bawah yang memanfaatkannya.

Apa melalui Koperasi Anda yakin hal itu bisa tercapai?

Waktu itu sebenarnya ingin bikin BPR, tapi persyaratannya agak sulit. Lalu kita diskusi, dan ternyata lebih fleksibel kalau kita bangun USP karena aturan mainnya tidak telalu ketat seperti bank, yang selalu mengedepankan faktor agunan sebagai syarat pinjaman. Padahal di koperasi, jika usaha anggota sudah layak pasar maka pinjaman bisa dikucurkan.

Berapa besar modal Anda waktu itu?

Kami mulai modal dengan Rp 1 miliar yang kita gulirkan ke para pedagang kecil di pasar-pasar yang ada di Bogor. Di luar dugaan dana tersebut berkembang pesat karena seluruh dana yang kita himpun langsung kita salurkan lagi kepada masyarakat. Alhamdulillah hingga kini kami bisa tumbuh dan mampu mengembangkan usaha lainnya seperti unit ritel dan perumahan.

Menurut Anda faktor apa yang mendorong masyarakat atau pun anggota percaya kepada KSU-SB?

Yang pertama tentu saja karena kita melayani mereka dengan prima, disamping itu laporan keuangan juga kita siapkan dengan sangat transparan sehingga setiap anggota bisa melihat kinerja keuangan koperasi ini.

Mengembangkan koperasi umumnya tidak mudah, kendala apa saja yang Anda hadapi?

Kendala terbesar adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap koperasi. Walau sudah jadi anggota sekalipun tetap saja mereka ragu dengan koperasi. Contohnya, pada awal berdirinya USP, kepada anggota kita pasarkan produk simpanan berjangka. Begitu jatuh tempo sangat sedikit yang mau memperpanjang simpanannya. Biasanya langsung mereka cairkan dulu, kemudian baru mereka simpan lagi. Prinsipnya mereka ingin bukti dulu apakah uangnya benar-benar ada. Hingga kini walau kami sudah berjalan delapan tahun, namun tetap saja anggota meminta dana simpanannya yang jatuh tempo dicairkan dulu ke rekeningnya. Dengan tingkat kepercayaan yang masih rendah itu memang sangat berat bagi koperasi dalam menjaga likuiditasnya.

Kiat apa saja yang Anda lakukan untuk meningkatkan kepercayaan anggota?

Kiatnya ya jujur saja pada anggota, penuhi dan bayar secara tepat waktu semua kewajiban koperasi kepada anggota. Sebenarnya kepercayaan anggota kepada koperasi semakin membaik. Namun akan lebih baik lagi jika pemerintah ikut membantu dengan berbagai regulasi yang bisa menjamin kepercayaan anggota kepada koperasi. Jika di perbankan         ada Lembaga Penjaminan Simpanan, maka seyogyanya di koperasi juga ada lembaga penjaminan yang sama. Kini tingkat kepercayaan makin baik, kita berharap pemerintah bantu membentuk lembaga penjamin simpanan koperasi agar mempermudah kepercayaan masyarakat.

Dalam perjalanannya, KSU-SB yang Anda bangun ini juga merambah sektor usaha lainnya yaitu ritel. Apakah karena latah dengan peluang pasar atau memang sector ini mampu menjaga likuiditas koperasi?

Sejak awal yang kami bangun memang KSU, walau yang mulai beroperasi adalah Unit Simpan Pinjam. Tetapi kami memang menyiapkan koperasi ini secara visioner. Yang ada di pikiran saya, jika koperasi itu ingin besar seperti Rabobank di Belanda, Zen-noh di Jepang atau Agricole di Perancis, maka kita harus bisa bangun usaha yang terintegrasi dari hulu ke hilir, harus bisa bangun pabrik dan industri, tidak melulu berhenti di satu bidang usaha saja.

Prioritasnya ke depan USP ataukah Ritel?

Kita serahkan saja kepada trend pasar. Awalnya memang USP karena koperasi itu umumnya identik dengan USP. Usaha ritel baru kita buka lima tahun berselang tepatnya pada bulan Agustus 2010. Tetapi keduanya kita perlakukan secara profesional. USP misalnya kita jalankan seperti layaknya perbankan, tapi yang kita utamakan anggota, kita memperlakukan anggota sebagaimana namanya nasabah Priority di Bank walaupun simpanannya hanya seratus ribu rupiah saja. Begitu juga dengan profesionalisme yang kami jalankan di Ritel yang sepenuhnya dijalankan oleh para manajer muda dan sangat inovatif dalam mengembangkan gerai usaha di berbagai tempat. Kini perkembangan antara USP dan Ritel hampir berimbang, bahkan ke depan ritel akan lebih besar. Saat ini USP sudah memiliki 40 kantor sementara ritel sudah punya 150 gerai di Jawa barat saja. Saat ini kami tengah membangun sebuah distribution centre di Sawangan untuk melayani gerai SB Mart di Jakarta , Banten dan juga Jabar. Ritel ini memang padat modal dan sekaligus padat karya, saya kira dalam dua tahun ke depan Ritel KSU-SB sudah bisa berbicara di pentas nasional.

Bagaimana dengan rekrutmen keanggotaan di USP?

USP kita kembangkan dengan tetap mengedepankan azas profesionalisme, karena unit ini merupakan icon bagi koperasi. Saya punya pengalaman panjang di dunia asuransi sehingga model operasionalnya kita ambil dengan meniru pola asuransi. Di asuransi ada agen, di kita namanya para penyuluh yang datang ke rumahrumah (door to door) menawarkan untuk jadi anggota koperasi. Setiap kantor cabang rata-rata punya 100 penyuluh, sehingga ada 4000 orang yang tiap hari datang ke rumah-rumah calon anggota. Awalnya kita tawarkan untuk menjadi calon anggota dengan cara membeli produk simpanan USP. Kita buat produk Simpanan yang menarik masyarakat dan tidak kalah dengan produk lembaga Keuangan lainnya, bila lancar maka dalam tiga bulan mereka akan jadi anggota kita. Tabungan mereka yang selama tiga bulan itu menjadi simpanan pokok dan simpanan wajib. Cara ini cukup ampuh dalam menjaring anggota yang rata-rata naik 30% setiap tahunnya. Sebagai anggota akan mendapatkan manfaat lebih yaitu jasa pinjaman yang lebih rendah dan harga khusus anggota di SBmart.

Rencana KSU-SB ke depan?

Dalam dua tahun ini kami memang tidak melakukan ekspansi besar-besaran. Tahun ini kami sedang menaikkan kapasitas pelayanan terutama di pengembangan ICT (information, communication and technologies) guna mengantisipasi pertumbuhan anggota. Dulu dengan melayani anggota 20 ribu orang saja kapasitas kita sudah sulit. Ke depan jumlah anggota bakal meningkat sehingga kita bangun ICT bekerjasama dengan PT. Sigma Telkom. Dengan demikian semua cabang dan unit usaha bisa online dan saling terintegrasi. Selain itu, kami sedang melaksanakan transformasi operasional USP. Dulu administrasi kita terpusat dimana kantor cabang USP hanya melakukan pemasaran tapi proses administrasinya di kantor pusat, sehingga banyak kendala dan pelayanan yang berkurang. Contohnya, untuk menerbitkan Sertifikat Simpanan Berjangka dari Surabaya dikrim secara manual, bisa berbulan-bulan. Kini dengan dibangunnya transformasi operasional semua aktivitas lapangan diserahkan ke kantor cabang. Pokoknya pelayanan harus prima dan baik, USP kan pada dasarnya bank juga, ini bank rakyat. Pokoknya kantor cabang USP harus berperan maksimal, dimana dana yang dihimpun di cabang tersebut benar-benar harus disalurkan di cabang itu juga.

Bagaimana dengan likuiditas koperasi ini, apakah dengan dana yang tersedia saat ini bisa mengcoverkebutuhan anggota?

InsyaAllah aman, tahun 2012 ini jumlah pencairan pinjaman untuk anggota mencapai Rp 2 miliar per hari atau sekitar Rp 750 miliar per tahun, itu dari USP saja. Dari total aset kita yang kini sudah lebih dari Rp 700 miliar sudah bisa mengcover kebutuhan anggota. Selama ini kita memang belum menggunakan dana perbankan kendati tawaran mereka sangat gencar. Masalahnya bunga yang diberikan bank dan jasa yang  kita berikan kepada anggota sama saja, jadi ngapain ngasih ke bank kan lebih baik ke anggota sendiri. Kecuali kalau bank mau memberi bunga pinjaman yang lebih kecil, lebih baik kita pinjam sama angotadan kita berikan keun-tungan kepada mereka. Namun demikian tidak menutup kemungkinan di tahun 2013 nanti kita akan menggunakan dana perbankan linked program karena kami akan melakukan ekspansibesarbesaran dan melaksanakan program gebyar pinjaman yang membutuhkan dana yang cukup besar.

Apa upaya Anda untuk menjaga koperasi ini tetap aman?

Pertama, saya meminta kepada pengurus dan karyawan agar tetap fokus dan komit dengan usaha yang kita jalankan. Kedua, Taat dengan aturan main. Koperasi itu rentan sekali dengan isu, tapi selama kita taat aturan, saya kira kita akan tetap bertahan, kita selalu mengutamankan pelayan dan kepuasan kepada anggota sehingga mereka juga bisa setia kepada kita. Ketiga, kita bangun teknologi untuk pelayanan, karena kita ingin menjadi koperasi besar seperti koperasi besar lainnya di luar negeri. Jika kita besar maka yang untung adalah seluruh anggota sementara jika usaha konglomerat untung besar maka yang untung hanya segelintir kecil para pemegang saham.

Artinya sejak jauh hari KSU-SB memang sudah merancang target untuk masuk ke kancah koperasi besar dunia?

Ya, target kami tiga tahun ke depan, pada 2015 kita sudah bisa mengantongi aset sebesar Rp 10 triliun. Jika target itu tercapai maka kita akan lapor ke ICA untuk didaftar sebagai salah satu koperasi besar dunia. Untuk saat ini, kita berbenah dulu menata anggota yang solid, meningkatkan kompetensi seluruh karyawan dan membangun ICT sehingga dapat menyajikan laporan yang cepat, tepat, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

By bungadeposito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s